Gambar 1

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Gambar 2

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Gambar 3

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Gambar 4

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Gambar 5

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sabtu, 30 Agustus 2014

Minimalkan Resiko Bahaya Obat Nyamuk

Pernahkan terlintas tanya di dalam pikiran Anda bahwa obat nyamuk yang Anda gunakan benar-benar aman bagi kesehatan Anda sekeluarga? Dan juga, apakah cara penggunaan Anda selama ini sudah tepat?

Bahan Aktif Obat Nyamuk

Pada prinsipnya semua obat nyamuk memiliki khasiat yang sama yaitu untuk membunuh dan mengusir nyamuk. Perbedaannya hanya pada kemasan dan kadar/ konsentrasi bahan aktif. Bahan aktif yang sering digunakan umumnya adalah golongan organofosfat. Contohnya adalah dichlorovynil dimethyl phospat (DDVP), propoxur (karbamat), dan diethyltoluamide (DEET) yang merupakan jenis insektisida pembunuh serangga. 

DDVP termasuk kategori racun tingkat 1 (berdaya racun tingkat tinggi) menurut WHO. Berdasarkan penelitian US EPA tahun 1988, zat ini dapat merusak syaraf, menyebabkan gangguan pernafasan, jantung, sistem reproduksi, dan karsinogen (memicu kanker). Hingga saat ini penggunaan DDVP sudah dilarang di luar negeri. Jadi, jika Anda masih menjumpai DDVP di dalam komposisi produk obat nyamuk yang Anda gunakan, sebaiknya segera hentikan pemakaiannya dan beralih ke produk lain yang tidak mengandung DDVP.

Selain DDVP, yang termasuk bahan aktif golongan organofosfat adalah Propoxur dan DEET. Propoxur termasuk kategori racun tingkat 2 karena dalam penggunaan jangka panjang dapat mengganggu sistem reproduksi. Sementara itu DEET bersifat korosif, jika digunakan secara topikal terus menerus bisa menimbulkan iritasi kulit. 

Alternatif bahan aktif lainnya adalah golongan Synthetic Pyrethroid, di antaranya Prallethrin dan Permethrin.  Synthetic Pyrethroid merupakan insektisida golongan organik yang dikembangkan dari konsep bunga Chrysanthemum. Bahan aktif ini lebih aman untuk lingkungan dan manusia karena mudah terurai dan mudah dikeluarkan dari dalam tubuh melalui feces, urine, dan saluran pernapasan.

Jenis-jenis Obat Nyamuk

Berdasarkan bentuknya, obat nyamuk terdiri dari empat macam yaitu obat nyamuk bakar, semprot, elektrik, dan oles. Manakah yang lebih efektif ?
Obat nyamuk bakar berbentuk spiral, umumnya berwarna hijau dengan bau khas, mengandung propoxur dan transflutrin. Kekurangannya adalah menghasilkan asap yang bisa menyebabkan mata pedih dan sesak napas.
Obat nyamuk semprot terdapat dalam kemasan kalengan (spray) atau aerosol, dengan bahan aktif propoxur, Sinthetyic Pyrethroid dan turunannya. Kelebihannya adalah dapat membunuh lebih banyak nyamuk dibandingkan jenis obat nyamuk lainnya.

Obat nyamuk elektrik menggunakan listrik sebagai medianya, sedangkan anti nyamuknya berbentuk cairan atau lempengan. Cairan di dalam rangkaian alat tersebut diubah menjadi gas yang berfungsi untuk mengusir nyamuk. 

Terakhir, obat nyamuk oles terdapat dalam bentuk krim dan lotion, dengan bahan aktif DEET. Obat nyamuk oles bersifat menolak nyamuk agar tidak mau menempel ke kulit. Jadi obat nyamuk jenis ini hanya untuk mengusir sementara saja (daya tahan tergantung dari masing-masing produk, mulai dari 4 – 8 jam).

Solusi Penggunaan Obat Nyamuk yang Tepat
Prinsip dasar yang harus dipahami semua orang ketika menggunakan obat nyamuk adalah bahwa “zat aktif yang dipakai merupakan RACUN, dan tidak ada racun yang benar-benar aman”. Gunakan obat nyamuk hanya  bila gangguan nyamuk memang sudah tidak terkendali atau melebihi batas toleransi dan GUNAKAN DENGAN CARA YANG TEPAT, seperti solusi berikut:

a. Obat nyamuk bakar.
Jangan digunakan sepanjang malam.
Tidak direkomendasikan bagi penderita asma karena dapat menyebabkan batuk, sesak napas, alergi, dan sinusitis.
Gunakan hanya dalam ruangan non AC yang memiliki sirkulasi udara yang baik.
Bakarlah 6 – 8 jam sebelum menggunakan ruangan.

b. Obat nyamuk semprot
Arahkan penyemprotan pada dinding atau gorden, BUKAN ke udara. 
Lakukan penyemprotan 2 – 3 jam atau lebih sebelum ruangan digunakan.
Hindari terkena bahan makanan atau benda-benda yang bisa menyebabkan kontak langsung dengan kulit.
Gunakan masker supaya cairan yang disemprotkan tidak langsung terisap.
Dengan cara penyemprotan yang benar, obat nyamuk masih semprot efektif selama 2 – 3 hari. Jadi Anda tidak perlu menyemprot obat nyamuk setiap hari.

c. Obat nyamuk elektrik
Jangan gunakan sepanjang malam. Obat nyamuk elektrik tetap mengeluarkan asap meski tidak terlihat. Oleh karena itu pastikan ruangan mempunyai sirkulasi udara yang baik.

d. Obat Nyamuk Oles
Jangan digunakan untuk anak di bawah usia 4 tahun karena berisiko bahan aktif akan diserap berlebihan melalui kulit. 
Untuk anak usia 4 tahun ke atas, oleskan tipis-tipis saja. 
Jangan digunakan terlalu sering atau berulang-ulang dalam tenggang waktu cukup lama.
Hindari pemakaian di daerah kulit sekitar mata, hidung, dan mulut
Jika muncul keluhan iritasi segera hentikan penggunaan dengan membasuh kulit di bawah air mengalir.

Bila Anda ingin mencari alternatif lain yang jauh lebih aman, Anda bisa menanam tumbuh-tumbuhan yang dapat mengusir nyamuk di pot kemudian menaruhnya di dalam ruangan. Di antaranya adalah lavender, serai, rosemary, geranium / bunga tapak dara, dan akar wangi. Selain lebih aman bagi kesehatan dan lingkungan, tumbuhan tersebut juga dapat berfungsi sebagai tanaman hias. 

Sumber : kompas.com, enesis.com, health.okezone.com

Tubuh Sehat Bebas dari Konstipasi

Setiap orang mempunyai frekuensi buang air besar (BAB ) yang bervariasi, ada yang sehari bisa tiga kali, ada juga yang seminggu tiga kali. Kondisi ini normal selama tubuh masih merasa nyaman dan tidak ada kesulitan BAB. Namun, bila Anda sudah mengalami kembung, nyeri perut, dan susah BAB karena feses (kotoran) yang keras berarti Anda sudah mengalami “konstipasi” atau sembelit.


Tidak perlu cemas jika frekuensi BAB tidak setiap hari
Frekuensi BAB tidak selalu menjadi patokan seseorang mengalami konstipasi atau tidak, karena tidak ada aturan pasti mengenai berapa kali seseorang harus BAB dalam satu hari. Seseorang bisa dikatakan mengalami konstipasi meskipun ia BAB setiap hari, yaitu jika fesesnya keras dan harus bersusah payah untuk mengeluarkannya. Jadi, tidak perlu cemas jika frekuensi BAB Anda tidak setiap hari.

Konstipasi Fungsional vs Konstipasi Organik
Ada dua jenis konstipasi yaitu konstipasi fungsional dan konstipasi organik / idiopatik. Pada konstipasi fungsional, usus dalam kondisi yang sehat tetapi tidak berfungsi dengan baik. Hal ini sering terjadi akibat pola makan dan gaya hidup yang tidak sehat. Sedangkan, konstipasi organik / idiopatik disebabkan oleh berbagai hal seperti masalah hormonal, dan persyarafan otot-otot saluran pencernaan pada anus (dubur), rektum, atau kolon (usus besar).

Apa penyebab konstipasi?
Konstipasi bisa terjadi karena kolon menyerap air secara berlebihan atau karena lambatnya kontraksi otot-otot kolon. Hal ini menyebabkan feses yang melewati kolon bergerak terlalu lambat. Akibatnya, feses menjadi keras, kering, dan susah dikeluarkan. Konstipasi bukanlah penyakit melainkan sebuah kondisi yang memiliki banyak penyebab, antara lain :

a. pola makan tidak sehat (kurangnya asupan cairan dan konsumsi serat)
b. kurang aktivitas fisik. Aktivitas fisik berbanding lurus dengan aktivitas gerakan usus, sehingga dengan beraktivitas fisik atau berolahraga yang rutin akan dapat merangsang BAB yang lancar.
c. Stress. Stress mempengaruhi metabolisme tubuh, termasuk saluran pencernaan.
d. obat-obatan. Konstipasi dapat disebabkan karena penggunaan obat maag (antasid), obat diare, dan obat pencahar yang terlalu sering.
e. penyumbatan oleh penyakit atau gangguan saraf, misalnya tumor / kanker kolon, ambeien / wasir, diabetes, atau multiple sclerosis.
f. Gangguan hormonal, misalnya kelenjar tiroid yang kurang aktif (hipotiroidisme), dan kehamilan

Mengapa wanita lebih mudah mengalami konstipasi?
Menurut dr. Chudanan Manan, SpPD-KEGH, pengajar senior divisi gastroenterologi FKUI, seperti yang dilansir heath.kompas.com, wanita lebih mudah mengalami konstipasi karena beberapa hal :

- aktifitas fisik wanita biasanya lebih sedikit daripada pria,
- gangguan hormonal (misalnya saat hamil), dan
- wanita cenderung lebih memikirkan suatu hal menggunakan perasaan sehingga menjadi beban pikiran dan membuahkan stress.

Bagaimana Penanganan Konstipasi?
Penanganan konstipasi tergantung pada penyebabnya. Bila penyebabnya adalah gaya hidup, penanganan terbaik adalah mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat, yaitu :

a. memperbanyak aktifitas fisik dengan berolahraga secara rutin atau paling tidak jalan-jalan.
b. mencukupi kebutuhan air putih (1,5 – 2 liter/hari) dan serat dari makanan (roti gandum utuh, sereal, sayur, dan buah-buahan)
c. rutin memijat dinding perut sekitar 10 menit, setiap bangun tidur.
d. tidak menahan BAB hanya karena kesibukan
e. bila perlu, konsumsi suplemen serat diet. Efeknya tidak segera, tetapi bila dikonsumsi secara rutin dapat menormalkan pergerakan usus.

Bila konstipasi disebabkan oleh penyakit, gangguan saraf, atau hormonal, penanganannya harus dilakukan dengan menghilangkan penyebab yang mendasarinya.   
Sedangkan, jika konstipasi disebabkan oleh konsumsi obat-obatan tertentu, penggantian atau modifikasi dosis obat mungkin diperlukan. Meskipun obat pencahar banyak dijual bebas, Anda jangan sembarangan membeli obat pencahar karena obat pencahar juga memiliki efek samping seperti obat-obatan lainnya. Konsultasikan terlebih dahulu dengan Apoteker.

sumber : persify.com, majalahkesehatan.com 

Cek Status Kesehatan Melalui Feses

Kotoran, feses, atau tinja adalah 'sampah' dari makanan yang nutrisinya sudah diserap oleh tubuh. Feses mengandung makanan yang tidak tercerna, bakteri, lendir, dan sel mati. Hal-hal inilah yang menyebabkan feses berbau. Bagi sebagian orang, pembahasan tentang feses mungkin dirasa menjijikan. Namun, status kesehatan seseorang ternyata dapat dilihat melalui kondisi feses, terutama tekstur dan warnanya. 


Tekstur

1. Bentuk sosis, lembut, dan halus.
Tekstur feses seperti ini adalah yang paling ideal, karena mengindikasikan tubuh Anda sehat !

2. Bongkahan lunak dengan potongan yang jelas.
Tekstur feses ini masih tergolong normal, dengan catatan bahwa Anda BAB beberapa kali dalam sehari.

3. Bentuk sosis dengan retakan pada permukaan.
Tekstur feses ini pun masih tegolong normal. Adanya retakan tersebut berarti tubuh Anda masih membutuhkan asupan air.

4. Bongkahan kecil padat dan terpisah seperti kacang.
Waspada! Anda kekurangan serat dan cairan! Biasakan minum air putih lebih banyak (2 liter/hari) dan perbanyak konsumsi buah dan sayuran.

5. Memanjang dan padat.
Kondisi tubuh Anda juga kekurangan serat dan cairan, tapi tidak separah seperti tekstur sebelumnya.

6. Bongkahan lunak dengan ujung kasar dan encer.
Bentuk ini menandakan kesehatan tubuh Anda sedang turun. Bisa jadi, Anda akan mengalami diare.

7. Cair, tidak ada yang padat.
Anda menderita diare. Penyakit ini bisa disebabkan karena infeksi bakteri di usus. Diare merupakan cara tubuh membersihkan diri. Minumlah banyak air untuk menggantikan cairan yang hilang dari tubuh.

8. Lengket dan menempel di permukaan kloset.
Feses Anda mengandung terlalu banyak lemak, karena tubuh tidak menyerap lemak dengan baik. Kemungkinan adanya penyakit pankreatitis kronis yang mencegah penyerapan lemak secara normal.

Warna

1. Coklat.
Tubuh yang sehat ditandai dengan feses berwarna coklat. Warna ini merupakan perpaduan antara bilirubin yang berasal dari sel darah merah yang telah mati dan cairan empedu yang berasal dari kandung empedu. Cairan empedu selanjutnya akan dimetabolisme oleh bakteri yang terdapat di dalam usus. Metabolisme ini akan menghasilkan produk sampingan yang disebut “stercobilin”.Paduan antara bilirubin dan stercobilin inilah yang akan membuat feses tampak berwarna kecoklatan.
Namun, pada bayi yang baru lahir, tubuh belum dapat menghasilkan bilirubin, sehingga pewarnaan feses hanya melibatkan cairan empedu saja. Oleh karena itu, feses akan terlihat berwarna kekuningan atau kehijauan.

2. Hitam
Bisa jadi Anda mengalami pendarahan internal pada organ perut bagian atas, seperti lambung atau kerongkongan. Hal ini dikarenakan darah akan mengalami proses oksidasi ketika melewati cairan asam lambung dan menghasilkan warna kehitaman. Namun, jangan khawatir karena konsumsi vitamin atau suplemen tertentu dengan kandungan zat besi juga dapat menyebabkan feses berwarna hitam. 

3. Hijau
Makanan terlalu cepat melewati usus sehingga proses pencernaan dan pewarnaan fesesnya belum sempurna. Selain itu, bisa jadi merupakan indikator adanya  infeksi bakteri, karena peradangan pada usus juga menyebabkan waktu transit feses menjadi singkat. Dalam kondisi ini, Anda bisa mengalami diare bila kondisi terus-menerus dibiarkan. Kemungkinan lainnya, Anda terlalu banyak mengonsumsi sayuran atau makanan yang mengandung warna hijau (klorofil).

4. Putih atau pucat
Warna tak lazim ini bisa jadi disebabkan karena adanya penyumbatan pada saluran empedu atau adanya penyakit pada organ hati. Konsumsi obat-obatan tertentu juga bisa menjadi penyebabnya. Untuk memastikan, cek  kesehatan Anda ke dokter.

5. Kuning
Feses mengandung lemak berlebih dan cenderung berbau tajam. Hal ini bisa disebabkan karena gangguan penyerapan seperti yang disebabkan penyakit Celliac (kerusakaan pada usus halus yang mengakibatkan ketidakmampuan untuk mencerna nutrisi tertentu). Perbaiki pola makan atau diet Anda dengan mengurangi asupan lemak.

6. Merah atau ada bercak darah
Warna merah pada feses mengindikasikan adanya pendarahan internal pada organ perut bagian bawah, bisa di daerah rektum atau anus (misalnya ambeien). Penyebab lainnya adalah karena Anda terlalu banyak mengkonsumsi makanan berwarna merah seperti buah bit, buah naga merah, jus tomat, atau sup merah.


Bila Anda mengalami salah satu kelainan tekstur dan atau warna feses seperti di atas, pastikan dulu selama 2 – 3 hari. Jika selama itu warna atau teksturnya berturur-turut sama, maka segera cek kondisi kesehatan Anda ke dokter. Jadi, tidak ada salahnya kan memperhatikan kondisi kotoran Anda sebelum disiram di toilet ?

Sumber : health.kompas.com, vemale.com, terapisehat.com

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More